Di depan pintu lapisan kedua, Yin Yue berdiri dengan rasa frustasi yang mendalam. Di hadapannya, seekor binatang iblis berbentuk seperti gorila dengan tanduk besar di kepalanya menghalangi jalan. Binatang itu memiliki kecerdasan yang tinggi dan berada di ranah setingkat Grandmaster, jauh lebih kuat darinya. Ditambah lagi, energi iblis sudah merasukinya selama sekian abad. Melihat kekuatan musuh, Yin Yue merasa tidak mungkin bisa mengalahkannya tanpa bantuan.

"Bagaimana bisa aku menghilangkan makhluk ini seperti di pintu pertama? Kali ini aku sendirian," batinnya, merasa terbebani oleh situasi yang mengerikan. Awalnya dia sudah bersiap untuk menghadapi semua kendala di dalam artefak. Namun, informasi mengenai adanya binatang iblis yang menjaga pintu formasi tidak pernah dia dengar. "Sepertinya binatang ini tertarik dengan energi iblis yang keluar dari pintu tersebut."

Yin Yue bersembunyi dari kejauhan, berusaha memantau cara mendekati tempat tersebut dengan harapan menemukan cara mengaktifkan pintu formasi menuju Lapisan ketiga dengan aman.

Tiba-tiba, gorila iblis itu mengeluarkan energi berwarna hitam yang menggetarkan udara di sekitarnya. Tanpa peringatan, ia menyerang ke arah Yin Yue dengan kecepatan yang mengejutkan. Yin Yue tidak punya waktu untuk berpikir, dia segera menghindar. Namun, ledakan dari serangan itu cukup kuat untuk membuatnya terlempar ke samping dan terluka.

Dengan cepat, Yin Yue menyadari bahwa makhluk itu sudah mengetahui keberadaannya meski dia menjaga jarak jauh. Dia segera mengaktifkan teknik teleportasi yang ada di dalam dirinya, berharap untuk melarikan diri ke tempat yang lebih aman sebelum serangan berikutnya datang. Dalam sekejap, dia merasakan tarikan yang kuat saat dia berpindah ke lokasi yang lebih jauh.

Sekembalinya ke kesadarannya, Yin Yue menghela napas lega, meskipun jantungnya masih berdebar kencang. "Ternyata makhluk itu sudah mengetahui keberadaanku," pikirnya, merasa terjebak. Dia harus berpikir cepat dan menemukan strategi yang tepat untuk menghadapi tantangan yang ada di hadapannya.

Sementara itu, Lynx dan Ling Mei masih menyusuri lantai kedua. Lynx masih diam, belum menemukan topik pembicaraan. Aura tubuh Ling Mei serasa makin menekan.

"Kenapa wanita ini selalu diam? Apakah dia takut kecantikannya berkurang kalau banyak bersuara?" batin Lynx sambil meringis.

"Ling Mei," Lynx mencoba memulai pembicaraan, suaranya lembut namun tegas.

"Katakan! Ada apa?" jawab Ling Mei ketus sambil tetap melangkah. Dia tidak memiliki petunjuk arah, tetapi mempercayakan instingnya untuk menemukan pintu formasi yang mereka cari.

Lynx menelan ludah dengan paksa. Sikap dingin Ling Mei terasa membekukan tubuhnya.

"Andaikan aku menemukan bukti bahwa kamu bukan Leena, akan kuikat kakimu di atas pohon dan kubiarkan semut-semut menggigitmu biar hilang dinginmu," batin Lynx kesal, merasa frustrasi dengan ketidakpedulian Ling Mei.

Ling Mei yang melihat ekspresi Lynx, merasa tidak enak. "Apa yang kamu pikirkan? Awas berani berpikir negatif!" ancamnya, matanya menyala dengan ketegasan.

"Eh, nggak, aku... anu..." Lynx kalang kabut, tidak menduga Ling Mei akan berbicara demikian.

"Aku hanya ingin mengatakan, sepertinya aku tahu bagaimana cara menemukan pintu formasi itu," katanya, berusaha mengalihkan perhatian.

Ling Mei berhenti dan memandang Lynx dengan serius. "Katakan!"

"Ingat, di lapisan pertama, energi iblis terasa lebih tebal dibandingkan di tempat lain," kata Lynx, berusaha menyampaikan penemuan yang ia rasakan.

"Lebih tebal? Apa maksudmu? Aku tidak merasakan apapun. Energi iblis sudah mengacaukan persepsiku," jawab Ling Mei, keraguan tergambar jelas di wajahnya.

"Aku mungkin kebetulan bisa merasakannya. Tapi aku punya dugaan, pintu formasi pasti tempat lewatnya energi negatif, sehingga kebocoran energi iblis dari fragmen mencapai tempat tersebut," kata Lynx, menegaskan keyakinannya.

"Lalu bagaimana?" Ling Mei masih belum memahami maksud Lynx, menggigit bibirnya dengan cemas.

"Artinya, jika ingin menemukan lokasi pintu formasi, kita cukup menemukan arah di mana energi lebih pekat terasa. Dan aku merasakan energi iblis di tempat itu lebih tebal," jelas Lynx, menatap Ling Mei dengan penuh harapan.

Sejak Lynx memasuki dunia kecil tersebut, tubuhnya dimasuki berbagai macam energi iblis, membuatnya merasa menderita, tetapi dia tidak memperlihatkannya. Tubuhnya lalu sedikit demi sedikit membentuk antibodi, sehingga Lynx mulai dapat mengeluarkan kemampuan deteksinya terhadap energi iblis.

Tiba-tiba, Lynx dan Ling Mei diserang oleh ratusan akar yang hidup, melilit mereka dengan kekuatan yang mengerikan. Akar-akarnya menjalar dengan cepat, menciptakan suara berdesing yang menggetarkan udara.

Ling Mei, yang tidak menduga, segera mengeluarkan jurusnya, "Golden Abyss Palm." Dengan gerakan tangan yang anggun, dia memancarkan gelombang energi emas-hitam yang melesat, memotong akar-akar yang menerjang dengan kecepatan luar biasa. Namun, setiap kali satu akar hancur, akar lainnya seolah terlahir kembali, meluncur tanpa henti.

Sementara itu, Lynx, dengan santai menangkap dan memukul semua akar-akar yang menyerang. Namun setiap pukulan yang dia berikan menghasilkan dentuman yang menggema, menghancurkan akar-akar yang melilitnya. Namun, semakin banyak yang dia hancurkan, semakin banyak yang muncul untuk menggantikan. Dalam kekacauan yang mencekam itu, Lynx melihat Ling Mei terjebak, akarnya melilit kakinya dan menariknya ke dalam lumpur  yang menakutkan.

"Jangan!" teriak Lynx, namun terlambat, tubuh Ling Mei sudah masuk kedalam lumpur. Hatinya bergetar saat melihat sosok Ling Mei tenggelam tidak terlihat lagi.

Segera tanpa ragu, dengan kecepatan tinggi, dia memukul udara dengan kekuatan penuh. Gelombang udara yang dihasilkan menghancurkan akar-akar yang mendekat, tetapi akar-akar lain segera muncul untuk menggantikan yang hancur.

Dengan waktu yang semakin mendesak, memanfaatkan celah yang ada sebelum akar lainnya datang. Dia melompat dengan kecepatan luar biasa, lalu menggunakan kekuatannya  menggapai tangan Ling Mei yang sudah terbenam di dalam lumpur. Setelah merasakan tangan Ling Mei, Lynx memegang tangannya dan dengan satu tarikan yang kuat, dia berhasil menariknya keluar. Lynx melihat Ling Mei telah kehilangan kesadaran.

Setelah memastikan Ling Mei aman, Lynx bergerak cepat mencari tempat perlindungan. Di tengah hutan yang lebat, sebuah gua kecil menarik perhatiannya. Dengan cepat, Lynx membawa Ling Mei ke dalam gua, lalu menempatkannya dengan lembut di atas tanah yang lembap.

"Kurasa disini cukup aman," gumam Lynx, mengamati sekeliling dengan waspada. Dia lalu membuat formasi penghalang dimulut gua.

Setelah itu, dia memusatkan energi saktinya, berusaha memulihkan energi Ling Mei.

Setelah memastikan kondisi Ling Mei baik-baik saja. Lynx mulai dihinggapi kebingungan.

"Bagaimana ini, tubuhnya penuh dengan lumpur. Aku tidak ingin kulitnya menjadi bermasalah," kata Lynx khawatir. Dia merasa khawatir jika nantinya Ling Mei sakit.

"Aku merasa mengulangi kejadian yang sama," lanjutnya, sambil melepaskan pakaian Ling Mei secara perlahan. Lynx menelan ludah, terpesona oleh keindahan dan keseksian tubuh Ling Mei yang terpampang di hadapannya. Dia mengelus bukit kembarnya Ling Mei dan meremasnya. "Rasanya sama dengan tubuh Leena."

Dengan hati-hati, Lynx mulai menyeka tubuh Ling Mei menggunakan air yang dia bawa. Dia juga memanfaatkan kekuatan elemen tanah untuk menghilangkan tanah-tanah yang menempel di kulit dan rambutnya, mengalirkan energi lembut yang menenangkan.

Setelah bersih, Lynx tidak dapat menahan diri untuk tidak mengagumi keindahan tubuh Ling Mei lagi. Kerinduan terhadap Leena membuatnya tidak dapat menahan diri sehingga dia mencium lembut bibir Ling Mei.

Sementara itu, tanpa disadari oleh mereka, kabut tipis dari dalam gua perlahan memasuki pernapasan Lynx dan Ling Mei. Gua itu adalah tempat di mana tanaman paling berbahaya tinggal. Aroma yang dikeluarkannya memiliki efek rangsangan birahi yang kuat, membuat suasana menjadi semakin mencekam.

Lynx, yang tubuhnya sedang membentuk perlawanan terhadap energi iblis yang masuk ke dalam tubuhnya tanpa henti, tidak menyadari bahwa aroma lembab tersebut mulai mempengaruhi pikirannya. Kerinduan yang mendalam terhadap Leena, kekasihnya, mengaburkan pikirannya dan menghapus semua keraguannya untuk bercinta dengan wanita di depannya.

"Leena...." desah Lynx lemah, suaranya penuh dengan kerinduan saat dia mendekat, bibirnya mencium dan melumat bibir  Ling Mei yang mulai membuka mata perlahan. Dalam momen itu, dunia di sekeliling mereka seakan menghilang, dan Lynx terperosok dalam kerinduan yang menyakitkan, tanpa menyadari bahaya yang mengintai di balik aroma tersebut.

